Kamis, 14 Juli 2022

AKSI NYATA

 NAMA   : SUPARTI

CGP ANGKATAN 4_SMPN 1 PLAOSAN

kABUPATEN MAGETAN, JATIM

AKSI NYATA

3.3.A.10 PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID
MENYUSUN KESEPAKATAN KELAS


Peristiwa ( Facts ) :


Latar Belakang

Tujuan Pendidikan adalan menuntun anak sesuai dengan kodratnya untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya. Proses menuntun yang dilakukan guru untuk memerdekakan belajar murid akan cepat terrealisasi dengan program-program sekolah yang berdampak pada murid. Program-program sekolah yang mengarahkan dan menuntun murid untuk bisa hidup sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. Segala potensi yang dimiliki murid akan berkembang secara maksimal dengan adanya program yang berdampak pada murid. Program yang berdampak pada murid akan didapatkan dengan menyusun program tersebut secara kolaboratif dan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki. Proses penyusunan program tersebut mengimplementasikan tahapan BAGJA dengan menerapkan pendekatan inkuiri apresiatif. Segala aset/ kekuatan/ potensi yang dimiliki sekolah haruslah dipetakan, dikelola dan dimanfaatkan untuk mendukung dan mewujudkan program yang berdampak pada murid. Program yang berdampak pada murid akan cepat dan tepat terlaksana jika aset-aset dimiliki sekolah dapat dimanfaatkan secara maksimal.

SMP Negeri 1 Plaosan yang berada di kaki Gunung Lawu, berlokasi di tepi jalan raya menuju obyek wisata Sarangan dengan jumlah murid 768 anak sudah pasti memiliki murid dengan karakterisik sosial, agama dan budaya yang beragam. Mereka sudah membawa karakter masing-masing. Peran guru sebagai pendidik hanya menuntun agar terbentuk pribadi yang berkarakter Pancasila melalui keteladanan dalam diri guru. Melalui program yang berdampak pada murid, semua potensi /aset yang dimiliki murid dapat berkembang maksimal. Melalui pembuatan kesepakatan kelas, diharapkan mampu menjembatani untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan bagi semua murid. Kesepakatan kelas merupakan hasil usulan dari seluruh warga kelas ( suara ), yang kemudian didiskusikan bersama warga kelas ( pilihan ), yang kemudian hasil kesepakatan kelas tersebut dipajang di kelas untuk dilaksanakan bersama warga kelas ( kepemilikan ).

Kesepakatan kelas sangatlah perlu disusun, untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman. Dengan kesepakatan kelas tidak lagi ada hukuman, sehingga siswa akan menjalankan kesepakatan kelas tersebut dengan penuh kesadaran. Karena keberagaman karakteristik murid, sudah pasti akan ada murid yang melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan kelas tersebut yang dalam pelaksanaanya akan diberikan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan. Seiring dengan berjalannya waktu, murid akan tumbuh kesadaran diri untuk mentaati kesepakatan yang telah dibuat bersama. Harapan saya kesepakatan kelas ini tidak hanya disusun di kelas yang saya ampu, tetai juga disusun di semua kelas. Dan ke depannya harapan saya kesepakatan kelas ini akan bermuara menjadi kesepakatan sekolah. Jika kesepakatan sekolah benar-benar terwujud dari suara murid, pilihan murid dan murid merasa memiliki maka akan terwujudlah sekolah yang menyenangkan yang berpihak pada murid.

Proses Jalannya Penyusunan Kesepakatan Kelas :

1.   Komunikasi dengan Kepala Sekolah terkait Program Penyusunan Kesepakatan Kelas di seluruh kelas.

2.   Sosialisasi Program Penyusunan Kesepekatan Kelas kepada Rekan Guru ( terutama Wali Kelas )

3.   Sosialisasi Program Kesepakatan Kelas pada Murid di kelas.

4.   Guru Meminta pendapat murid tentang kelas idaman ( suara murid )

5.   Guru meminta ide murid untuk mewujudkan kelas idaman ( suara murid )

6.   Murid bersama memilih ide-ide yang sesuai untuk mewujudkan kelas idaman untuk disepakati bersama ( pilihan murid )

7.   Hasil kesepakatan kelas dibuat dalam bentuk poster

8.   Poster hasil kesepakatan kelas dipajang di kelas ( kepemilikan murid )

 

Dampak Yang Didapatkan :

Program Penyusunan kesepakatan kelas dimaksudkan untuk menumbuhkan budaya positif dari dalam diri murid dengan tanpa adanya paksaan. Murid yang melanggar kesepakatan kelas tidak diberikan hukuman/ sanksi, tetapi murid hanya dikenai konsekuensi dari kesalahan yang dilakukan. Dengan demikian murid dengan  penuh kesadaran dari dalam diri murid sendiri akan menjalankan hasil kesepakatan kelas tersebut. Dengan terlaksananya kesepakatan kelas, maka terciptalah suasana kelas yang kondusif dan nyaman sehingga terwujudlah pembelajaran yang berpihak pada murid. Kesepakatan kelas diharapkan dapat menjadi keyakinan kelas, yang untuk jangka panjangnya akan menjadi keyakinan sekolah. Keyakinan Sekolah diharapkan  mampu menggantikan posisi peraturan sekolah, sehingga warga sekolah akan menjalankan keyakinan sekolah bukan karena hukuman dan paksaan.


Tujuan Aksi Nyata :

  • Menumbuhkan budaya positif dalam diri murid tanpa adanya paksaan
  • Menumbuhkan jiwa kepemimpinan murid melalui penyaluran suara, menentukan pilihan dan kepemilikan muird
  • Terwujudnya lingkungan pembelajaran yang nyaman dan berpihak pada murid

Dukungan Yang Dibutuhkan : 

1. Kepala Sekolah, sesama CGP, rekan guru dan tenaga kependidikan

2. Peserta didik sebagai subyek pelaksana kegiatan

3. Sarana prasarana yang menunjang pelaksanaan kegiatan

4. Wali murid

5. Finansial


Langkah-langkah B A G J A 

B - Buat Pertanyaan

- Bagaimana cara menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada murid.

A - Ambil Pelajaran ;

- Apakah murid terpaksa menjalankan ketertiban sekolah ?

- Apakah yang memotivasi murid dapat mengikuti pembelajarn dengan menyenangkan ?

- Apa yang memotivasi murid agar dapat menjalankan ketertiban sekolah ?

G - Gali Mimpi

- Seperti apa penyusunan kesepakatan kelas yang berpihak pada murid ?

- Seperti apa pembelajaran yang berpihak pada murid ?

J _ Jabarkan rencana 

- Langkah apa yang bisa dilakukan untuk mewujudkan penhyusunan kesepakatan kelas ?

- Bagaimana program ini bisa dijalankan di semua kelas ?

- Bagaimana program ini memperomosikan suara, pilihan murid dan kepemilikan murid ?

A - Atur Ekskusi Tindakan 

- Siapa ( murid dan guru ) yang bertanggung jawab memonitor agar kegiatan dapat berjala dengan menyenangkan ?

- Siapa yang dapat diajak berkolaborasi mengamati keterlaksanaan kesepakatan kelas ?

Perasaan ( Feeling )

Perasaan saya ketika merencanakan dan menjalankan program :

Ketika menjalankan Aksi Nyata saya merasa senang dan antusias, semoga aksi nyata yang saya lakukan melalui Program Yang Berdampak Pada Murid dengan Penyusunan Kesepakatan Kelas mampu mengubah SMP Negeri 1 Plaosan menjadi lebih baik., murid-murid tumbuh dengan karakter yang baik melalui budaya positif dan tercipta pembelajaran yang nyaman serta  mengakomodir kebutuhan seluruh murid.

Pembelajaran ( Pinding )

Dengan Membuat Kesepakatan Kelas yang berasal dari murid sendiri, ternyata murid dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan akan berusaha untuk menjalankan apa yang telah diseakati bersama. Melalui penyusunan Kesepakatan Kelas, mampu menumbuhkan jiwa kepemimpinan Murid dengan mempromosikan  Suara ( Voice ), Pilihan ( Choice ) dan Kepemilikan ( ownership )


Penerapan Ke Depan ( Future )

Pelaksanaan hasil kesepakatan kelas akan dimonitor dan evaluasi dengan harapan melalui perbaikan maka kesepakatan kelas akan menjadi keyakinan kelas dan ke depannya akan menjadi keyakinan sekolah, di mana murid akan menjalankan Budaya Positif dengan kesadaran dari dalam dirinya, sehingga tidak ada lagi Peraturan Sekolah yang memaksa murid.

 

DOKUMENTASI KEGIATAN







   


Rabu, 01 Juni 2022

3.1.a.10 AKSI NYATA PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 OLEH : SUPARTI, S,Pd

CGP Angkatan 4, Kabupaten Magetan

 

PEMBELAJARAN TATAP MUKA 100%


A.    FACTS ( Peristiwa )

LATAR BELAKANG

Dalam  Surat Keputusan Bersama 4 Menteri ( Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia ) Nommor 01/KB/2022, Nomor 408 Tahun 2022, Nomor HK.01.08/MENKES/1140/2022, Nomor 420-1026 Tahun 2022 Tertanggal 22 April 2022 Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Di Masa Pandemi Covid-19 disebutkan bahwa Satuan pendidikan yang berada pada PPKM level 1 (satu), PPKM level 2 (dua), dan PPKM level 3 (tiga) dengan capaian vaksinasi dosis 2 (dua) pada pendidik dan tenaga kependidikan di atas 80% (delapan puluh persen) dan capaian vaksinasi dosis 2 (dua) pada warga masyarakat lansia di atas 60% di tingkat kabupaten/kota dilaksanakan pembelajaran tatap muka dengan ketentuan sebagai berikut:

(1)      dilaksanakan setiap hari;

(2)    jumlah peserta didik 100% (seratus persen) dari kapasitas ruang kelas

(3) jam pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang digunakan di satuan Pendidikan.


SKB 4 Menteri Tahun 2022 

tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19


Menindaklanjuti SKB 4 Menteri tersebut, maka Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magetan mengeluarkan Surat Edaran Tertanggal 9 Mei 2022 yang berisi bahwa di kabupaten Magetan berada pada PPKM Level 1 dengan cakupan vaksin untuk tenaga Pendidik dosis II sudah 100% dan Lansia tahap II juga 100%. Sehingga di Kabupaten Magetan pelaksanaan Pembelajaran pada Satuan Pendidikan dapat dilakcanakan 100% dari kapasitas ruang kelas dengan jam pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang di gunakan di Satuan Pendidikan.



Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga 
Kabupaten Magetan tentang PTM 100%



SMP Negeri 1 Plaosan, jumlah siswanya tidak sedikit. Sebanyak 767 orang siswa dengan luas lahan yang hanya sekitar 3100 m2, di mana luas halaman yang tidak lebih dari 600 m2 yang  tidak memungkinkan bisa menjaga jarak tanpa pengawasan ekstra. Apalagi didukung pada saat penerapan Tatap Muka terbatas sebelumnya, kemungkinan ada siswa yang positif terpapar covid-19, akhirnya ketika diadakan rapid secara sampel dari 10% siswa ternyata lebih dari 10% sampel terindikasi positif. Dan ketika ditrakcing, dari sampel yang dilakukan rapid antigen diperoleh hasil lebih dari 20% dinyatakan positif Covid-19.

Warga sekolah masih merasa was-was dengan kondisi sekolah tersebut jika harus melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka 100%, meskipun 100% pendidik dan tenaga kependidikan di SMP Negeri 1 Plaosan telah mengikuti vaksin Dosis II dan sebagian besar telah mengikuti Booster. Demikian juga dengan siswa SMP Negeri 1 Plaosan 100 % juga telah melaksanakan Vaksin Dosis II.

Namun sebagai tindak lanjut dari SKB 4 Menteri dan Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magetan, maka di SMP Negeri 1 Plaosan sejak tanggal 9 Mei 2022 dimulailah Pembelajaran tatap Muka 100% dengan tetap mematuhi protocol kesehatan. Anak-anak masih diwajibkan memakai masker, mencuci tangan pada saat kedatangan dan tetap menjaga jarak.


              

                 Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka 100%


 

ALASAN MELAKSANAKAN AKSI NYATA :

Berdasarkan latar belakang peristiwa di atas, jika diidentifikasi maka merupakan dilema etika, sekolah harus memiliki pilihan dalam melakukan pembelajaran, harus melaksanakan Pembelajaran tatap Muka 100% karena mematuhi peraturan ataukah belum melaksanakan Tatap Muka Terbatas 100% karena mempertimbangkan kesehatan warga sekolah. Akhirnya seklah memutuskan Pembelejaran Tatap Muka 100% dengan alasan adanya learning loss yang terjadi pada siswa salah satunya dalam bentuk penurunan capaian belajar siswa. Selain itu pelaksanaan pembelajaran daring berdampak pada menurunnya tingkat percaya diri dan karakter siswa.

Dalam mengambil keputusan ini perlu dilakukan pengujian pengambilan keputusan dengan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan, sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan terbaik, berpihak kepada murid, serta dapat dipertanggung jawabkan. Maka pihak sekolah yang terdiri dari Kepala Sekolah, Waka dan Kaur, serta wali kelas, terlebih dahulu mengadakan rapat koordinasi guna membahas langkah-langkah pengambilan keputusan tentang kegiatan Pembelajaran tatap Muka 100%.

HASIL AKSI NYATA :

Proses Pengambilan Keputusan dengan menjawab 9 langkah pertanyaan penuntun berikut ini :

1.  Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut ? Rasa Keadilan lawan Rasa Kasihan 

2.  Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut ? Kepala Sekolah, Dewan guru (termasuk saya),  murid

3.  Apa fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut ?

Pembelajaran Tatap Muka 100%, Surat edaran Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan olahraga kabupaten Magetan tentang pembelajaran tatap muka 100%, Lahan sekolah sempit dengan jumlah siswa tidak sedikit, pengalaman sebelumnya ketika tatap muka terbatas 100% lebih dari 20% sampel siswa terindikasi positif Covid-19.

4.  Pengujian benar atau salah

·      Apakah ada pelanggarah hukum dalam situasi tersebut ( uji Legal ) ? Tidak ada

·      Apakah ada pelanggaran peraturan / Kode etik profesi ( Uji Regulasi ) Ada

·       Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda apakah ada yang salah dalam situasi ini (uji intuisi)? Tidak ada

*    Apa yang Anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan koran ? apakah Anda merasa nyaman ? Tidak apa-apa

·       Kira-kira keputusan apa yang akan diambil oleh panutan / idola Anda dalam situasi ini ? Kemungkinan besar Kepala Sekolah yang menjadi panutan saya akan mengambil keputusan yang sama dengan yang dikehendaki dewan guru (saya) yaitu Melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka 100%.

5.  Jika situasinya adalah situasi dilemma etika paradigma mana yang terjadi dalam situasi tersebut ?  Rasa Keadilan lawan Rasa Kasihan ( Justice vs Mercy )

6.  Dari 3 prinsip penyelesaian dilema prinsip mana yang akan dipakai ? Prinsip berbasis peraturan

7.  Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini  (investigasi opsi trilema) ? Ada, yaitu melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka 100% dengan mematuhi protokol kesehatan dengan pengawasan ketat dari Bapak Ibu Guru.

8.  Apa keputusan yang akan diambil ? Keputusan yang diambil yaitu Melaksanakan Pembelajaran tatap Muka 100% dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan dan guru mengawasi keterlaksanaan Protokol kesehatan.

9.  Coba lihat lagi keputusan Anda dan refleksikan ! Menurut saya keputusan yang diambil oleh Sekolah sudah tepat, yaitu Melaksanakan Pembelajaran tatap Muka 100% dengan tetap mematuhi protocol kesehatan.

 

TINDAK LANJUT PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pembelajaran dilaksanakan secara Tatap Muka 100% dengan mematuhi protocol kesehatan, di mana guru digilir piket bergantian setiap hari untuk memantau peterlaksanaan protocol kesehatan warga sekolah, meliputi cek suhu tubuh saat kedatangan, pemakaian masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dan pada saat kedatangan. Demikian pula pada saat kepulangan guru piket harus mengatur kepulangan anak-anak agar tidak berjubel saat keluar sekolah.

B.       FEELING ( PERASAAN  )

Dalam melaksanakan aksi Nyata Modul 3.1 saya semula merasa ragu-ragu, was-was jika covid kembali mewabah. Tapi Alhamdulillah akhirnya saya merasa lega, sampai saat ini pada hari ke 20 Pembelajaran Tatap Muka 100% tidak ada berita perkembangan covid-19 khususnya di sekolah saya dan di wilayah Magetan umumnya. Hal ini sangat mendukung keterlaksaaan Pembelajaran Tatap Muka berikutnya, sehingga pembelajaran akan semakin kondusif yang akan berdampak pada kualitas pendidikan umumnya.

C.       FINDING ( PEMBELAJARAN )

Permasalahan yang muncul baik pada individu maupun pada suatu organisasi harus kita cari solusinya secara bijaksana,  sehingga pengambilan keputusan yang akan kita lakukan berdampak positif. Pembelajaran yang dapat diambil  setiap mengahadapi sebuah dilema etika atau bujukan moral adalah perlu adanya kolaborasi dan kerjasama pada semua pihak dalam menghadapi dilemma. Dalam pengambilan keputusan perlu mempertimbangkan 4 paradigma dilemma etika, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan keputusan sehingga apa yang kita putuskan tidak menguntungkan kepada salah satu pihak tetapi akan mengayomo seluruh pihak, sehingga akan terwujud suasana nyaman pada seluruh pihak yang berkepentingan.

 

D. FUTURE ( PERUBAHAN )

Proses pengambilan keputusan yang dilakukan dalam mencari solusi pada kasus ini mungkin belumlah sempurna. Untuk ke depannya bila mengalami kasuu dilemma etika lagi, maka kami akan lebih berusaha menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan agar diperoleh keputusan yang bijaksana yang berpihak pada murid.

CEK SUHU SAAT KEDATANGAN

                                                                   CUCI TANGAN SAAT KEDATANGAN

PEMBELAJARAN TATAP MUKA 100% DI KELAS







Jumat, 06 Mei 2022

KONEKSI ANTAR MATERI : PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 

Modul 3.1.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Oleh : SUPARTI

CGP Angkatan 4_SMPN 1 Plaosan, Magetan

 

1.  Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah proses menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak ( kodrat alam dan kodrat zaman ), agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

 KHD berpandangan, seorang pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak, serta memiliki kemampuan dalam menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya mengarahkan bagaimana murid berkembang sesuai karakter, keunikan serta memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya.

 

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa). Beliau pun mencetuskan asas-asas pendidikan yang kita kenal sebagai Patrap Triloka. Patrap Triloka terdiri atas tiga semboyan,

1.  Ing Ngarso Sung Tulodo yang berarti bahwa di depan dapat memberikan teladan yang baik bagi murid-muridnya, rekan sejawat maupun anggota masyarakat. Oleh karena itu dalam mengambil suatu keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran guru harus terlebih dahulu menganalisis dengan sungguh-sungguh karena segala keputusan yang diambil akan menjadi contoh bagi murid – murid, rekan sejawat dan anggota masyarakat. 

2.  Ing Madya Mangun Karsa yang artinya ditengah dapat membangun karsa atau kemampuan atau semangat. Oleh karena itu guru harus mampu mengambil keputusan-keputusan yang berpihak kepada murid dan dapat membangkitkan Karsa semangat dan kemampuan murid-muridnya.

3.  Tut Wuri Handayani yang berarti di belakang dapat memberikan dorongan semangat pada murid agar dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya ini berarti bahwa guru harus mampu mengambil suatu keputusan terkait proses pembelajaran dan kegiatan sekolah yang dapat mendorong murid agar dapat berkembang sesuai dengan minat, profil dan kesiapan belajarnya 

Ketiganya berpengaruh terhadap pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Nilai Ing ngarsa sung tuladha, memberikan pengaruh nyata terhadap peran guru sebagai teladan dalam menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pengambilan keputusan yang dilakukan tentu dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Guru juga bisa memberikan dukungan berupa ide, gagasan, dan masukan dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu, juga bisa berupa pemberian opsi trilemma berupa ide kreatif dalam pengambilan keputusan.

2.  Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap individu termasuk juga guru memiliki nilai-nilai kebajikan universal yang sudah tertanam dalam dirinya, seperti keadilan, tanggung jawab, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip, integritas, kasih sayang, rajin, komitmen, percaya diri, kesabaran, dan masih banyak lagi. Nilai-nilai tersebut yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar. Keputusan tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan oleh kita. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik.

Nilai-nilai Guru Penggerak, meliputi  Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif serta Berpihak pada murid adalah manifestasi dari pengimplementasian kompetensi social emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan berinteraksi social dalam mengambil keputusan yang berpihak pada murid.

3.  Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi, baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan coaching, seorang coach tidaklah memberi solusi namun dengan langkah coaching TIRTA, seorang coach dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan menggali solusi dari coachee. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator sangat  membantu saya dalam berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil ( apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, apakah keputusan tersebut sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan )

4.  Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran di kelas seyogyanya harus mengetahui dan memahami kondisi social emosional dari muridnya. Guru juga penting untuk memahami kondisi social emosional dirinya sendiri agar mampu mengambil keputusan  yang tepat dan bijaksana dalam menyelesaikan persoalan pembelajaran baik di kelas maupun lingkungan sekolah. Guru dalam melakukan teknik STOP, dengan melakukan berhenti dari semua aktivitas, kemudian menarik nafas panjang, hingga memberi waktu untuk memahami dengan baik kasus yang dihadapi. Guru juga harus mencari tahu apa yang dirasakan murid dan mau mendengarkan dengan penuh perhatian ( focus ). Respon guru dalam kondisi berkesadaran penuh ( mindfulness ) inilah yang akan mempengaruhi keputusan yang diambil.

5.  Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik ?

Nilai-nilai yang dimiliki seorang Guru Penggerak, yakni Mandiri, Inovatif, Kolaboratif, Reflektif dan Berpihak pada murid akan mampu mendorong guru mampu mengambil keputusan  yang mengutamakan kepentingan dan keberpihakan  pada murid yang sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam menjalankan perannya sebagai seorang pendidik, sering dihadapkan pada situasi dilemma etika maupun bujukan moral. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai0nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai dengan harapan banyak pihak. 

6.  Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman ?

Sebelum mengambil keputusan kita hendaknya mengidentifikasi situasi yang kita hadapi berada pada ranah bujukan moral ataukah dilemma etika. Jika kita dihadapkan pada situasi dilemma etika, mmaka pengambilan keputusan harus mempertimbangkan 4 paradigma dilemma etika ( individu vs masyarakat, keadilan vs rasa kasihan, kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka panjang ). Pengambilan Keputusan juga harus mempertimbangkan 3 prinsip pengambilan keputusan ( Berpikir berbasisi hasil akhir, berpikir  berbasis peraturan dan berpikir berbasis Rasa Peduli ). Serta dipadukan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus secara cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari puhak-pihak yang terlibat, maka akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif aman dan nyaman.

7.  Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan yang dialami di lingkungan saya dalam pemgambilan keputusan adalah:

Ø  Kendala / kesulitan yang bersumber pada pengambil pengambil keputusan karena keterbatasan pengetahuan mengenai pengambilan keputusan.

Ø  Trauma akan kegagalan yang pernah dialami  di masa lalu.

Ø  Paradigma warga sekolah, sulit melakukan perubahan mindset.

8.  Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pengambilan keputusan yang kita ambil  tentunya akan mempengaruhi pola pengajaran yang kita lakukan terhadap murid. Pada era Merdeka Belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah pembelajaran yang berpihak pada murid. Oleh karena itu keputusan yang diambil harus mencerminkan proses yang mampu menuntun murid untuk merdeka, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam, kodrat zaman dan potensi yang dimilikinya. Guru diharapkan memberikan ruang bagi murid dalam proses pembelajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan bakat dan potensi yang dimiliknya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain, karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid.

9.  Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang tepat dan bijak akan sangat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Seorang guru ketika mengambil keputusan akan menjadi pembelajaran bagi murid-muridnya. Keputusan itu akan menjadi teladan serta memotivasi dan mengembangkan potensi murid. Hal ini akan menjadi pengalaman bagi murid yang akan mempengaruhi cara berpikir mereka di masa depan. Setiap keputusan yang diambil seorang  guru dalam pembelajaran akan memaksimalkan potensi setiap anak atau sebaliknya. Keberhasilan seorang guru bukan hanya mengajarkan kecerdasan kognitif, melainkan juga membelajarkan kompetensi soaisl emosional serta spiritual secara menyeluruh. Hal ini sesuai dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara bahwasanya tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak ( kodrta alam dan kodrat zaman ), agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

10.     Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya ?

Pembelajaran dan pengalaman yang saya peroleh dari mempelajari modul 3.1 terkait Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran adalah bahwa seorang pendidik merupakan pilar utama dalam dunia pendidikan yang berinteraksi langsung dengan murid,  sering dihadapkan pada situasi yang tergolong bujukan moral maupun dilemma etika yang mengharuskannya melakukan pengambilan keputusan. Harapannya pengambilan keputusan tersebut mempertimbangkan konsekuensi dan situasi tak terduga lainnya di masa depan serta tidak mencederai pihak lainnya. Pengambilan keputusan tersebut harus mempertimbangkan 4  paradigma pengambilan keputusan ( Indivdu vs masyarakat, keadilan vs kasihan, kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka panjang ), 3 prinsip pengambilan keputusan ( Berpikir berbasis Hasil Akhir, Berpikir Berbasisi Peraturan dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli ) dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan ( 1. Mengidentifikasi nilai-nilai yang saling bertentangan, 2. Menentukan siapa saja yang terlibat, 3. Menentukan fakta yang relevan, 4. Melakukan Pengujian ( Uji legal, Uji Regulasi, Uji Intuisi, Uji Publik, dan Uji Panutan/ Idola ), 5. Melakukan Pengujian Paradigma Benar vs Salah, 6. Menetapkan Prinsip Pengambilan Keputusan, 7. Investigasi Opsi Trilemma, 8. Pengambilan Keputusan, dan 9. Lihat kembali  keputusan dan melakukan Refleksi ).

Kaitan Modul Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran  dengan Modul-modul sebelumnya, sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dalam kebahagiaan yang setinggi-tinginya, baik untuk dirinya sendiri, sekolah, maupun masyarakat. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, guru harus mampu memahami kebutuhan belajar muridnya ( melalui pembelajaran berdiferensiasi ) serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Selain itu, coaching juga menjadi salah satu usaha yang dilakukan oleh seorang pendidik dalam menuntun murid untuk memaksimalkan segala potensi yang dimiliki dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Proses coaching ini dilakukan dengan menjalin dan membangun hubungan kolaborasi dengan menggunakan komunikasi asertif serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang menstimulus murid dalam mengeksplorasi potensi yang dimiliki untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Coaching sendiri tidak hanya dilakukan pada murid, tetapi dapat juga diterapkan untuk membantu rekan guru, atau seluruh warga sekolah untuk menciptakan kondisi yang aman, nyaman dan membangun kebiasaan/budaya positif sekolah. Dengan coaching, seorang coach tidak memberi solusi tetapi menggali solusi dari coachee sendiri.

Pengambilan keputusan yang tepat dan efektif oleh guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran berperan sangat penting. Keputusan yang selalu berpihak pada murid sejalan dengan nilai-nilai kebajikan dan dapat dipertanggungjawabkan di dunia akhirat akan dapat melahirkan generasi emas Indonesia yang memiliki profil pelajar Pancasila.

 


AKSI NYATA

 NAMA   : SUPARTI CGP ANGKATAN 4_SMPN 1 PLAOSAN kABUPATEN MAGETAN, JATIM AKSI NYATA 3.3.A.10 PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID MENYUSUN KESE...